Jemaat yang baik, ideal, bertumbuh, dinamis dan berhasil
adalah harapan Kristus Yesus yang adalah kepala gereja
juga merupakan harapan sekalian orang percaya. Kenyataan
mengatakan bahwa hal itu tidak/ belumlah terjadi, karena
di dunia yang serba berubah dan tidak sempurna ini,
sulit untuk ditemukan gereja sempurna.
Bagaimana pula dengan jemaat Antiokhia yang adalah salah
satu jemaat permulaan dalam sejarah gereja?
Menyimak dan mendalaminya dalam Kisah Rasul 11:19-30
dan 13:1-3, cukup memberikan gambaran dan mode dari
suatu jemaat yang “Sempurna“, yang boleh
menjadi fokus, teladan dan target untuk kita hari ini
yang mengemban visi dan misi GBI-Antiokhia, dari Nats
Alkitab, dapatlah dijabarkan sbb :
1.
Didalam Jemaat Antiokhia terdapat PENGINJILAN:
Dari terwujud dan disebutnya mereka orang percaya, murid
Kristus yang mayoritas adalah pendatang dari jemaat
Yerusalem akibat penganiayaan setelah Stefanus mati
syahid bagi Tuhan, jelas sekali terlihat bahwa mereka
adalah jemaat yang menginjil.
Mereka menginjil melalui :
A. Memberitakan (19,20) secara aktif, berbicara.
B. Penyertaan tangan Tuhan (21) sehingga pasti adanya
manifestasi kuasa Tuhan (Mujizat) yang nyata, meneguhkan
dengan bukti (Markus 16:20)
C. Kesaksian Hidup (22,26). Keindahan, kuasa, keharuman
Kristus tercermin dari aplikasi iman kedalam kehidupan
nyata, menyentuh dengan sikap dan prilaku kehidupan.
D. Penuh kuasa karunia Allah (2,3), otoritas Tuhan nyata.
Bandingkan dengan Efesus 2:8-10
Tidakkah
ini menjadi motto, target, doa dan visi kita dalam menuju
ke GBI Antiokhia yang berkenan dan berguna bagi Tuhan
dan sesama? Mari kita doakan dan imani.
2.
Didalam Jemaat Antiokhia, terdapat PEMBINAAN:
Jemaat yang menginjil itu baik sekali dan bolehlah dijuluki
sebagai jemaat yang sudah mengerti, mengemban dan melaksanakan
Amanat Agung Yesus Kristus dalam Matius 28:19-20. Namun
kobaran semangat dan ambisi menginjil inipun akan lebih
bermutu bilamana diimbangi dengan pembinaan, pengkaderan,
peningkatan mutu, doktrinasi yang Alkitabiah, pengajaran
yang tepat, siap pakai sesuai, bermutu sehingga kegiatan
penginjilan tersebut dapat dilakukan dengan baik, mantap,
langgeng, efektif dan berhasil.
Sedikitnya
demi dan oleh maksud inilah, Tuhan bercampur tangan
yang nyata dalam pembinaan mutu dan karakter iman Jemaat
Antiokhia pada saat itu. Berbeda dengan keadaan sebagian
gereja masa kini yang mana sisi pembinaan/ pengajaran
inilah yang boleh dikatakan sangat lemah dan sedikit
sekali diperhatikan banyak gereja, sehingga tidaklah
heran bilamana mendapati anggota gereja yang kompromi
dengan dunia, iblis, tradisi dan dosa. Hal ini serius
dan berakibat serius pula, bila tidak disadari dan ditangani
dengan baik. Bagaimana pula nasib jiwa-jiwa yang masih
belum diselamatkan? Karena banyak bergugurannya Kristen
akibat kurang di ajar/dibina? Imannya rapuh, lemah dan
terancam.
Mulai ayat 22 sampai 30, memperlihatkan kepada kita
bagaimana Jemaat Antiokhia saat itu dibina. Apa saja
yang dibina, apapula hasil pembinaannya, kita simak
berikut ini:
A.
Dibina menjadi jemaat yang baik (24)
Barnabas yang sebagai pembinaan yang diutus kesana,
disebut orang baik; maka dengan sendirinya menjadi orang
baik inipun pasti tidak luput di ajarkan kepada jemaat
bahkan disertai dengan kesaksiannya “karena Barnabas
adalah orang baik “.
Tidakkah ini juga menjadi kerinduan dan target kita
semua, agar kita menjadi orang Kristen yang dapat disebut
baik?
B. Dibina menjadi jemaat yang penuh Roh Kudus
(24)
Bukankah ini juga merupakan harapan, himbauan bahkan
menjadi keharusan bagi setiap orang percaya, hidup penuh
dengan Roh Kudus (Efesus 5:18; Galatia 5:16-26). Barnabas
adalah orang yang penuh dengan Roh Kudus, maka pastilah
dia juga membina jemaat untuk penuh dengan Roh Kudus.
Mengerti, menyadari, merindukan dan mengalami hidup
Kristiani yang penuh Roh Kudus adalah suatu kemuliaan
untuk hidup bermutu, bergairah, berfungsi, menang dan
berhasil. Hal ini sering menjadi perdebatan dan selisih
paham dari sebahagian besar orang Kristen akibat salah
ajaran, takut, tradisi, salah paham, apriori dan lain-lain,
sehingga kebahagiaan terbesar dan kuasa serta pengalaman
terberharga ini terkendala diminati dan dinikmati oleh
kita. Yang pasti rugi besar selama hidup sebagai orang
Kristen bila tidak mendapatkan dan mengalami dipenuhi
Roh Kudus.
C. Dibina menjadi jemaat yang penuh Iman (24)
Oleh iman kita mengalahkan dunia, oleh iman kita memindahkan
gunung, oleh iman kita meraih dan mengalami kuasa mujizat
Allah, oleh iman kita berkenan dan diselamatkan Tuhan,
oleh iman dosa diampuni, oleh iman kita disembuhkan
dsb .
Namun kenyataannya, lebih sering ratio kita lebih berfungsi
ketimbang iman yang bereaksi. Pelajaran iman takkan
selesai dan tuntas dalam sekejap. Itu perlu disadari,
diminati, dinikmati dan dialami. Ingatlah Ibrani 11:6
; Tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah
.........
Barnabas adalah orang yang penuh iman, tidaklah mungkin
kalau beliau tidak mengajarkan, membina jemaat Antiokhia-pun
supaya penuh dengan iman.
D. Dibina menjadi jemaat yang memberi (29)
Berilah dan kamu akan diberi (Lukas 6:38)
Pengertian dan penghayatan memberi ini bukan sekedar
diajarkan bahkan dari hidup dan penyerahannya. Barnabas
dan Saulus membahaskannya dalam tindakan dengan kerelaan
mereka berada di Antiokhia. Pelajaran, pengertian, berkat
atas ketaatan memberi, sungguh merupakan suatu kunci
hidup berkelimpahan yang patut dan jangan diabaikan
diajarkan.
Beri dalam bentuk syukuran, perpuluhan, diakonia, penginjilan
dsb. Hanya dapat dilaksanakan dengan baik dan setia
bila jemaat dibina dan dimengertikan dengan bukti dan
saksi, dengan landasan Firman Allah.
E. Dibina menjadi jemaat yang beribadah, mengerti menyembah
Tuhan dengan baik dan merasakan kehadiran Tuhan (13:2).
Pembinaan terhadap jemaat perihal penyembahan dalam
ibadah, pastilah sudah sangat berhasil; sehingga pasal
13 ayat 2 memperlihatkan kepada kita klimaks hasil penyembahan
yaitu Roh Kudus beracara dengan leluasa, menyatakan
kehendak Tuhan dsbnya. Penyembahan semacam ini mutlak
menjadi keharusan dan kerinduan kita dalam ibadah. Kiranya
kita membuka dan membiasakan diri dalam ibadah kita
menyembah Tuhan kita Yesus Kristus.
F. Dibina menjadi jemaat yang berdoa puasa.
Berdoa dan berpuasa sering tak terpisahkan, berpuasa
dibarengi dengan doa merupakan ajaran, kunci dan jalan
bagi banyak orang percaya disegala abad untuk mereka
mendapatkan pengertian atas kehendak Tuhan, pertolongan
Tuhan, penyataan kuasa kelepasan, kesembuhan dari Tuhan
dsb. Tuhan Yesus, murid-murid, rasul-rasul, jemaat permulaan,
jemaat masa kini, banyak yang dapat menjadi teladan
dan jawaban untuk kita bahwasanya dengan berpuasa mereka
tertolong, dijawab, dipimpin dan diberkati Tuhan.
3.
Didalam Jemaat Antiokhia terdapat PENGUTUSAN:
Jemaat Antiokhia adalah jemaat pertama yang melakukan
tugas PI Pengutusan, bahkan penginjil yang berbobotlah
yang diutus dalam pimpinan yang jelas dari Roh Kudus
yaitu Barnabas dan Paulus. Dampak pengutusannya inilah
sangat terasa dan terus bergema: Jemaat yang berhasil,
berguna dan diberkati justru adalah jemaat yang berwawasan
Kerajaan Allah, berhati dan perasaan seperti Kristus,
beraksi dengan tekun dan setia terhadap Amanat serta
bersedia berkorban mengutus penginjil keluar batas tembok
gereja, organisasi, lintas budaya. Sejarah mencatat
dan membuktikan, jemaat yang diberkati amat sangat dalam
segala hal justru jemaat yang mengadakan pengutusan.
Itulah sekelumit hikmah, teladan dan kesaksian dari
Jemaat Antiokhia dimasa Rasuli, apakah itu semua masih
dapat terlaksana di GBI Antiokhia? Mari kita imani,
doakan, tekuni, libatkan diri dan berikan respons yang
positif.
Motto
kita: GBI Antiokhia kini dan yang akan datang adalah
jemaat yang didalamnya terdapat Penginjilan, Pembinaan,
Pengutusan. Kiranya Tuhan Mendorong, Menguatkan dan
Menggenapi. Haleluya, Imanuel.
|